Minggu, 14 Oktober 2012

Rumah Adat Nias Selatan

Latar belakang sering berperang, faktor pertahanan desa serta letak geografis di daerah perbukitan boleh jadi menginspirasi pemilihan/penentuan lokasi desa di atas bukit. Dibangun pada masa kebudayaan megalitikum, tangga-tangga yang menjadi solusi pencapaian menuju lokasi permukiman di Nias Selatan terbuat dari batu alam yang disusun rapi. Memasuki beberapa desa tradisional di Nias Selatan terlihat ada unsur-unsur kesamaan, yaitu adanya daro-daro (batu kubur) sebagai peringatan akan nenek moyang; faulu (batu julang) sebagai “tugu” peringatan berdirinya kampung; serta hombo batu (batu lompat) yang merupakan fasilitas fisik desa. Masih terlihat pada desa-desa peninggalan bahwa bentuk desa terjadi karena susunan rumah tinggal yang rapat dan berderet. Berbicara mengenai arsitektur tradisional di Nias Selatan memang lebih didominasi oleh bangunan rumah tradisional atau rumah adat (omo hada). Rumah adat berbentuk tipis dan tinggi terkesan lemah terhadap terpaan angin. Sebagai penyelesaiannya bangunan rumah adat dibangun saling menempel dan berderet berhadapan di sepanjang desa. Sekilas mata memandang, deretan rumah seolah mempunyai bentuk yang sama. Namun, jika diperhatikan, ada perbedaan pada ukuran, pada tinggi bangunan ataupun letak jalan masuk ke dalam rumah. Selain itu, terdapat juga perbedaan pada ragam hias pada setiap rumah. Strata sosial Perbedaan tinggi bangunan rumah di Nias Selatan menunjukkan golongan sosial masyarakat/strata penghuninya. Rumah tertinggi sebagaimana di desa di Bawmataluo ataupun di Orahili, misalnya, adalah omo sebua (rumah besar). Omo nifolasara sebua adalah rumah besar yang menjadi pusat orientasi desa. Rumah ini merupakan rumah tinggal raja yang memerintah desa itu pada masa lalu. Umumnya terletak di tengah desa (seperti di Bawmataluo, Botohilitan, Hilinawal) dan memutus kelanjutan dari rumah-rumah adat yang berderet. Untuk melengkapi kemegahannya serta menunjukkan kekuasaan penghuninya, omo sebua dihiasi dengan 3 lasara (naga dalam mitos yang melambangkan kekuatan) serta berbagai ornamen yang memberi kesan magis. Jika omo sebua merupakan rumah raja, omo nifobabatu adalah rumah untuk golongan bangsawan Si Ulu dan Si Ila. Sedangkan omo sato merupakan tempat tinggal rakyat biasa. Kedua tipe rumah ini mempunyai ketinggian yang tidak jauh berbeda, tetapi jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan omo sebua. Keunikan lain dari omo sebua adalah jalan masuknya (eduo) yang terletak pada sumbu bagian depan dan melalui kolong bangunan. Sementara pada rumah lainnya jalan masuk adalah melalui sisi samping bangunan. Kekerabatan Tipikal interior omo sebua, omo nifobabatu, dan omo hada sato hampir sama satu dengan yang lainnya, yaitu terdiri dari 2 bagian utama. Bagian muka atau daerah pria disebut tawolo, dan bagian belakang atau daerah wanita disebut frma. Frma merupakan daerah terlarang bagi kaum pria yang bukan keluarga. Bangunan yang diangkat kedudukannya dari permukaan tanah menunjukkan kosmologi masyarakatnya. Deretan rumah yang rapat dan saling terhubung oleh pintu-pintu di dalamnya mencerminkan kekerabatan yang sangat erat. Demikian pula pemilihan lokasi di atas bukit, merupakan strategi dalam berinteraksi dengan lingkungan. Jelaslah Arsitektur tradisional Nias dengan segala ciri khas dan keasliannya mencerminkan zaman berdirinya yang sangat selaras dengan lingkungannya dan adat istiadat yang melatarbelakanginya. Arsitektur Nias, jendela kearifan masa lalu menjawab tantangan alam sampai kini.





Secara kasat mata, ciri rumah adat Nias terbagi menjadi tiga yang diwakili oleh wilayah Nias Utara, Nias Tengah, dan Nias Selatan. Nias Utara, yang meliputi wilayah Gunungsitoli ke atas memiliki bentuk rumah yang bundar, baik atap maupun fondasi bangunannya. Satu bangunan yang paling mudah untuk diamati ialah bangunan yang berada di pintu masuk Bandara Binaka. Berkat bentuk fondasinya yang bundar, maka formasi bangunan ketika berada di suatu desa adat pun tidak berdempetan, melainkan berdiri sendiri.






Rumah Adat Nias Tengah, Di Perlintasan Gunungsitoli - Teluk Dalam


Bentuk rumah adat kedua adalah fondasi persegi namun atapnya bulat. Bentuk rumah adat ini yang diwakili oleh wilayah Nias Tengah yang berdiri diantara Gunungsitoli dan Teluk Dalam, sekitar wilayah Bawolato, Lahusa, dan Gomo. Salah satu rumah adat ini bisa diamati di tengah perlintasan jalan raya tersebut. Kalau nggak diamati dengan betul, saya yakin anda nggak bisa membedakan rumah adat ini dengan rumah adat Nias Selatan lantaran fondasi kotaknya yang cukup kuat terasa. Rumah adat di tempat ini tidak berdiri berdempetan, namun berdiri sendiri.






Deretan Rumah Adat Nias Selatan, Desa Bawömataluö


Nah, rata-rata, foto lingkungan adat maupun rumah adat Nias yang mungkin pernah anda lihat di buku maupun internet kebanyakan adalah yang bergaya Nias Selatan. Bentuk rumah adat di Nias Selatan adalah bentuk rumah persegi dan fondasi persegi. Keunikan lain di Nias Selatan adalah rumah adat yang terbangun berdampingan satu sama lain bersusun membentuk barisan panjang. Desa Bawömataluö yang terkenal itu bergaya khas Nias Selatan. Info lebih lengkap mengenai jenis-jenis rumah yang dibangun di Nias, hingga detail struktur arsitekturnya bisa didapat di Museum Pusaka Nias yang terletak di Gunungsitoli, tidak jauh dari pelabuhan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar